|
Written by Nadwah
|
|
Tuesday, 27 April 2010 06:19 |
|
Ikhwah fillah sesungguhnya setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada kepuasan, setelah begadang ada tidur pulas, dan setelah sakit ada kesembuhan. Setiap yang hilang pasti ketemu, dalam kesesatan akan datang petunjuk, dalam kesulitan ada kemudahan, dan setiap kegelapan akan terang benderang. Sampaikan kabar gembira kepada malam hari bahwa sang fajar pasti datang mengusirnya dari puncak-puncak gunung dan dasar-dasar lembah. Kabarkan juga kepada orang yang dilanda kesusahan bahwa, pertolongan akan datang secepat kelebatan cahaya-dan kedipan mata. Kabarkan juga kepada orang yang ditindas bahwa kelembutan dan dekapan hangat akan segera tiba. Saat Anda melihat hamparan padang sahara yang seolah memanjang tanpa batas, ketahuilah bahwa di balik kejauhan itu terdapat kebun yang rimbun penuh hijau dedaunan. Ketika Anda melihat seutas tali meregang kencang, ketahuilah bahwa, tali itu akan segera putus. Setiap tangisan akan berujung dengan senyuman, ketakutan akan berakhir dengan rasa aman, dan kegelisahan akan sirna oleh kedamaian. Kobaran api tidak mampu membakar tubuh Nabi Ibrahim a.s. Dan itu, karena pertolongan Ilahi membuka "jendela" seraya berkata: “Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (QS. Al-Anbiya': 69), masihkah kita harus ragu pertolongan-Nya? Atau mengapa samudera luas tak kuasa menenggelamkan Nabi Musa a.s? Itu, tak lain karena suara Agung yang kala itu telah bertitah, “Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya, Rabb-ku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku” (QS. Asy-Syu'ara: 62) Dan ingatlah ketika bersembunyi dari kejaran kaum kafir dalam sebuah gua, Nabi Muhammad s.a.w. yang ma'shum mengabarkan kepada Abu Bakar bahwa Allah Yang Maha Tunggal dan Maha Tinggi ada bersama mereka. Sehingga, rasa aman, tenteram dan tenang pun datang menyelimuti Abu Bakar. Jadi, masihkah kita harus ragu akan rahmat-Nya? Mereka yang terpaku pada waktu yang terbatas dan pada kondisi yang (mungkin) sangat kelam, umumnya hanya akan merasakan kesusahan, kesengsaraan, dan keputusasaan dalam hidup mereka. Itu, karena mereka hanya menatap dinding-dinding kamar dan pintu-pintu rumah mereka. Padahal, mereka seharusnya menembuskan pandangan sampai ke belakang tabir dan berpikir lebih jauh tentang hal-hal yang berada di luar pagar rumahnya. Maka dari itu, jangan pernah merasa terhimpit sejengkalpun, karena setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baik ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar. Betapapun, hari demi hari akan terus bergulir, tahun demi tahun akan selalu berganti, malam demi malam pun datang silih berganti. Meski demikian, yang gaib akan tetap tersembunyi, dan Sang Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan segala sifat-Nya. Dan Allah mungkin akan menciptakan sesuatu yang baru setelah itu semua. Tetapi sesungguhnya, setelah kesulitan itu tetap akan muncul kemudahan. "…jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (QS. Yusuf 87)
Wallahualam
Sumber: al-istiab.blogspot.com
|
|
Last Updated on Tuesday, 27 April 2010 07:24 |
|
Jika hati menjadi keras Pesan Baru |
|
|
|
|
Written by Komdatin
|
|
Tuesday, 06 April 2010 07:17 |
|
Sungguh Allah telah membukakan hati-hati hambaNya dengan hidayah keimanan. Dengan keimanan itulah Allah melunakkan hati-hati hambaNya untuk menerima cahaya Islam. Dengan penuh ketundukan berserah diri kepada segala ketentuan-ketentuan yang telah digariskan olehNya.
أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS. Az Zumar : 22)
Maka dalam ayat tersebut di atas Allah memberikan sebuah pertanyaan sebagai bahan perenungan, apakah sama orang telah dibukakan hatinya oleh Allah untuk menerima agama Islam lalu mendapat cahaya dari Tuhannya sama dengan orang yang membatu hatinya ? Sebuah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Melainkan hanya butuh penegasan untuk membedakan orang yang hatinya lunak menerima Islam dan orang yang hatinya keras membatu dari mengingati Allah. Sehingga mereka dalam kesesatan yang nyata.
Jelaslah, bagi setiap muslim yang dengan lapang dada menerima ajaran Islam dengan sepenuh hati akan menemukan ketentraman hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akherat. Segala permasalahan hidupnya akan dibimbing Allah melalui cahaya petunjukNya. Kehidupan yang membawa ketentraman, kedamaian dan keberkahan menyelimuti segenap aspek kehidupannya.
Karena mereka yakin akan janji-janji Allah yang telah dikhabarkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Bahwa seorang mukmin itu tiada rasa kekhawatiran dan sedih hati. Mereka tidak merasa minder dengan derajat sosial yang ia sandang karena meyakini bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Bahkan sebuah hadis menyebutkan bahwa rasulullah sendiri heran akan keadaan seorang muslim, apabila ia diberikan nikmat ia bersyukur, dan apabila ia diberi ujian ia bershabar. Subhanallah.
Tapi, meski Allah telah memancarkan cahaya petunjuk ke lubuk-lubuk hati manusia, ulah setan tiada pernah berhenti untuk menggoda anak-anak dan keturunan Adam. Manusia dibuatnya lupa untuk mengingat Allah dengan mengabaikan perintah-perintahNya dan menerjang larangan-laranganNya.
Dosa-dosa seolah-olah sudah menjadi biasa. Sedikit demi sedikit manusia terseret ke jurang kenistaan lantaran hidupnya di penuhi dengan kemaksiatan dan dosa-dosa telah menjadi titik-titik hitam yang menodai hati sanubari untuk menerima petunjuk kebenaran.
Allah telah mengkhabarkan kepada manusia akan adanya siksa neraka yang maha dahsyat untuk melunakkan hati manusia, agar takut dan senantiasa ingat dengan mendekatkan diri kepada Allah. Tapi kalau hati sudah keras membatu dari mengingati Allah, diterangkan oleh Allah sebagai sebuah kecelakaan yang besar. Dan mereka dalam kesesatan yang nyata.
Kerasnya hati, timbul karena menuruti hawa nafsu. Orang yang mengikuti hawa nafsu dengan menerjang larangan Allah dan mengabaikan perintah-perintahNya, maka hidupnya akan terombang-ambing dalam kesesatan. Hatinya sakit, hidupnya terasa sempit, kesenangan yang dirasakannya bagai fatamorgana yang semu dan menipu.
Gaya hidupnya glamaor dan serba fantastis hanyalah topeng untuk menutupi hatinya yang resah gelisah tidak menentu. Kegagahan dan kesombongan yang dinampakkan hanyalah pembalut yang membungkus keroposnya tongkat pegangan hidupnya. Mereka terjerat dalam lingkaran-lingkaran setan yang memperbudak diri mereka dengan kebutuhan materi yang tiada pernah ada habisnya.
Hati yang lunak tunduk dan pasrah kepada Allah adalah hati yang jernih, bersih dan sehat. Sebaliknya hati yang keras membatu adalah hati yang kotor, busuk dan sakit. Sebagaimana badan yang sakit, tidak dapat merasakan lezatnya makanan. Hati yang sakitpun tidak mempan dengan nasehat-nasehat dan peringatan-peringatan yang baik. Hal inilah yang menyebabkan dia akan semakin tersesat jauh hidup dalam ketidakmenentuan nilai dan terombang-ambing dalam kesesatan yang nyata.
Barangsiapa hendak mensucikan hatinya maka ia harus mengutamakan Allah dibanding keinginan dan hawa nafsunya. Karena hati yang tergantung dengan hawa nafsu akan tertutup dari Allah, sekedar tergantungnya jiwa dengan hawa nafsunya. Banyak orang menyibukkan dirinya dengan gemerlapnya dunia. Seandainya mereka sibukkan dengan mengingat Allah dan negeri akhirat tentu hatinya akan berkelana mengarungi makna-makna kalamullah dan ayat-ayat-Nya yang nampak ini, dan ia pun akan menuai hikmah-hikmah yang langka dan faedah-faedah yang indah. Jika hati disuapi dengan berdzikir dan disirami dengan berfikir serta dibersihkan dari kerusakan, ia pasti akan melihat keajaiban dan diilhami hikmah.
Tidak setiap orang yang berhias dengan ilmu dan hikmah serta memeganginya akan masuk dalam golongannya. Kecuali jika mereka menghidupkan hati dan mematikan hawa nafsunya. Adapun mereka yang membunuh hatinya dengan menghidupkan hawa nafsunya, maka tak akan muncul hikmah dari lisannya. Rapuhnya hati adalah karena lalai dan merasa aman, sedang kuatnya hati karena takut kepada Allah dengan berdzikir.
Kerinduan bertemu Allah adalah angin semilir yang menerpa hati, membuatnya sejuk dengan menjauhi gemerlapnya dunia. Siapapun yang menempatkan hatinya disisi Tuhannya, ia akan merasa tenang dan tentram. Dan siapapun yang melepaskan hatinya di antara manusia dan gemerlapnya dunia, ia akan semakin gundah gulana. Kecintaan terhadap Allah tidaklah akan masuk ke dalam hati yang mencintai dunia secara berlebihan.
Jika Allah cinta kepada seorang hamba, maka Allah akan memilih dia untuk diri-Nya sebagai tempat pemberian nikmat-nikmat-Nya, dan Ia akan memilihnya di antara hamba-hamba-Nya, sehingga hamba itu pun akan menyibukkan harapannya hanya kepada Allah. Lisannya senantiasa basah dengan berdzikir kepada-Nya, anggota badannya selalu dipakai untuk berkhidmat kepada-Nya.
Hati bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani, dan kesembuhannya adalah dengan bertaubat. Hati pun bisa kotor dan berdebu sebagaimana cermin, dan cemerlangnya adalah dengan berdzikir. Hati bisa pula telanjang sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah taqwa. Hati pun bisa lapar dan dahaga sebagaimana badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah, cinta, tawakkal, bertaubat dan berkhidmat untuk-Nya.
Wallahu a’lam bishshowab.
Oleh : Tri Harmoyo (
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
) |
|
|
Written by Nadwah
|
|
Tuesday, 23 February 2010 06:36 |
|
1. Memahami Islam Mustahil pemuda dapat memuliakan Islam kalau mereka sendiri tidak memahami Islam (35:28, 58:11) “Siapa yang dikehendaki Allah akan mendapat kebaikan, maka dipandaikanlah dalam agama.” (H.R. Bukhari-Muslim) “Dunia ini terkutuk dan segala isinya terkutuk kecuali dzikrulloh dan yang serupa itu dan orang alim dan penuntut ilmu.” (H.R. At Tirmizi)
2. Mengimani segenap ajaran Islam Iman kepada Allah dan Rasul-Nya pada hakikatnya merupakan sebuah sikap mental patuh dan tunduk (23:51). Tunduk patuh berlandaskan cinta kepada-Nya (2:165) dan ittiba’ (mengikuti) rasul-Nya (3:31, 53:3-4).
3. Mengamalkan dan mendakwahkan Islam Ciri orang yang tidak mengalami kerugian (khusrin) dalam hidup adalah senantiasa mengamalkan dan mendakwahkan Islam (103:1-3, 41:33, 3:110, 9:71, 5:78-79). “barang siapa menyeru kepada kebaikan maka ia akan memperoleh pahala sepadan dengan orang yang mengerjakannya.” (H.R. Muslim)
4. Berjihad dijalan Islam Jihad adalah salah satu hal yang diwajibkan Allah kepada kaum muslimin. Said Hawa membagi jihad menjadi lima macam : a. Jihad Lisaani, menyampaikan dakwah Islam kepada orang-orang kafir, munafik dan fasiq yang disertai dengan hujjah (argumentasi) yang dicontohkan oleh Nabi SAW. (5:62) b. Jihad Maali atau jihad dengan harta (49:15, 9:111). Jihad dengan harta merupakan bagian vital bagi jihad yang lainnya, karena dakwah memerlukan sarana dan prasarana. c. Jihad Bilyad wan nafs atau jihad dengan tangan/kekuatan dan jiwa (22:39, 2:190, 8:39, 9:36). Termasuk dalam jihad ini adalah menentang orang kafir, berusaha mengusir mereka dari bumi Islam, memerangi kaum murtad dalam negeri Islam, melawan pemberontakan atau pembangkangan atas negara Islam. d. Jihad Siyaasi atau jihad politik. e. Jihad Tarbawi/ta’limi, yakni bersungguh-sungguh mengajarkan, menyampaikan ilmu dan mendidik orang-orang yang ingin memahami Islam (3:79)
5. Sabar dan istiqomah di atas jalan Islam (21:83-85, 38:41-44, 37:100-107, 21:68-69, 71:5-9) Keimanan harus dilanjutkan dengan kesabaran dan istiqamah. “Keyakinan dalam iman haruslah secara bulat dan kesabaran itu setengah dari iman.” (H.R. Abu Nu’aim)
6. Mempersaudarakan manusia dalam ikatan Islam Pemuda seharusnya berperan dalam menjalin ukhuwah islamiyah sesama muslim (8:63, 59:9). “Setiap mukmin yang satu bagi mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan, antara satu dengan yang lainnya saling mengokohkan,” (Al hadist)
7. Menggerakkan dan mengarahkan potensi umat Islam Potensi umat Islam perlu diarahkan ke dalam amal jama’i secara efektif dan efisien (3:146)
8. Optimis terhadap masa depan Islam Pemuda Islam tak boleh memiliki jiwa pesimis. Sebaliknya, harus optimis akan hasil perjuangan dan pertolongan serta balasan dari Allah SWT. Hanya orang kafirlah yang memiliki sifat pesimis (12:87, 15:56).
9. Introspeksi diri (muhasabah) terhadap segala aktivitas yang telah dilakukan Introspeksi dan evaluasi dimaksudkan agar pemuda tidak mengulang kesalahan yang sama di hari mendatang, tidak terjebak dengan permasalahan yang sama dan mampu memperbaiki diri ke arah yang lebih baik (13:11). “Seorang yang sempurna akalnya ialah yang mengoreksi dirinya dan bersiap dengan amal sebagai bekal untuk mati.” (H.R. At Tirmizi)
10. Ikhlas dalam segenap pengabdian di jalan Islam Memurnikan niat karena Allah dalam ibadah, dan jihad merupakan masalah fundamental agar amal itu diterima sekaligus sukses.
“Sesungguhnya Allah menolong umat ini hanya karena orang-orang yang lemah di antara mereka yaitu dengan dakwah, shalat dan ikhlas mereka,” (H.R. An Nasai dari Sa’ad bin Abi Waqash)
Wallahualam
|
|
Tanggung jawab ulama, intelektual dan cendekiawan menghadapi kehancuran bangsa. |
|
|
|
|
Written by Nadwah
|
|
Wednesday, 16 December 2009 20:24 |
|
Tanggung jawab ulama, intelektual dan cendekiawan menghadapi kehancuran bangsa. Oleh : K.H. Muchtar Adam (Pimpinan Pondok Pesantren Babussalam, Ciburial, Bandung)
Tafsir al-Qurân surah Hûd [11] : 116-117 yang artinya : "Maka mengapa tidak ada dari ummat-ummat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari pada mengerjakan kerusakan dimuka bumi, kecuali sebahagian kecil diantara orang-orang yang telah Kami selamatkan diantara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. " Ayat ini menggambarkan gerakan cendekiawan masa lalu yang turut hanyut dalam kebobrokan sosial kecuali sedikit yang berani mengemukakan dan menegakkan kesalehan sosial, maka Allah Swt menghancurkan bangsa itu, ketika sebagian besar intelektual, cendekiawan dan ulama hanyut bersama dalam dunia syahwat materil karena pengaruh kemewahan duniawi yang semu, serta pengaruh kekuasaan. Ungkapan ayat tersebut agaknya saat ini juga cocok sekali berdasarkan munculnya gejala-gejala dalam masyarakat. "Para intelektual dan cendekiawan yang pasti berjuang mencegah munculnya kekacauan dan kehancuran dibumi ini serta orang-orang yang mempunyai keutamaan dan moral tinggi yang melarang bangsanya dari mengerjakan kerusakan dimuka bumi. Demikian juga para ahli taat, ahli agama, intelektual dan yang berpandangan jauh ke depan hendaknya melaksanakan gerakan anti maksiat dan anti penghancuran dunia serta kehancuran sosial dan kebobrokan masyarakat. Dan para kelompok ini terus berjuang mencegah bangsanya dari keingkaran, kemusyrikan serta mencegah penyembahan kepada patung-patung rasio serta mencegah dari segala kemaksiatan, karena hal itu akan menghancurkan bangsa dan masyarakatnya. Kelompok Intelektual dan Ahli Ibadah ini tidak henti-hentinya melaksanakan gerakan tersebut agar bangsanya terhindar dri kehancurannya. Kita akan heran jika bangsa ini menempuh jalan kerusakan seperti bangsa-bangsa dahulu yang telah diporak-porandakan olah Allah seperti kaum `Âd, Tsâmûd, dan kaum-kaum yang lain yang telah diungkapkan oleh Allah Swt dalam al-Qurân yang telah menciptakan kerusakan dan kebinasaan dimuka bumi ini melalui pola hidup mewah. Allah Swt telah mengungkapkan kejahatan mereka pada kemanusiaan berupa ketidak adilan sosial serta ketidak adilan dalam hukum, sehingga tercipta gap antara sikaya dan simiskin, dan antara pejabat serta rakyat jelata. Wajib bagi mereka yang selamat dari azab bangkit mencegah dari kerusakan karena nikmat Allah yang diberikan kepada mereka akibat intelektualitasnya, kemampuannya, serta bangkitnya ulama-ulama mukhlis pada mereka dan argumentasi yang mereka miliki. Disini dapat difahami karena mereka yang tersisa dari kehancuran, agar bangkit sebagai pahlawan kemanusiaan menebarkan rahmat dan kasih sayang bagi lingkungannya, sehingga dapat menegakkan keadilan sosial yang dipancari nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Gejala kezaliman sosial nampak dengan jelas dihadapan kita dari kasus nenek Minah, yang mencuri 3 buah kakao dengan hukuman percobaan 3 bulan, kasus mencas hp yang ditahan 80 hari, kasus pencurian semangka yang dihukum, kasus pencurian kapas yang dihukum, kasus yang menulis di face book berkeluh kesah tentang kejelekan pelayanan rumah sakit kemudian dihukum . Kasus yang paling spektakuler adalah kasus KPK, Anggodo, skandal Bank Century dengan turunannya yang merembet kepembagian uang rakyat oleh para pejabat, intelektual dan cendekiawan, demi kekuasaan. Lebih hebat lagi adalah kasus Tulang Bawang Lampung Sumatra Selatan antara rakyat dan PTP VII , yang telah menelan korban rakyat dan materi. Allah Swt merasa heran kepada para intelektual dan cendekiawan serta ahli-ahli ibadah juga orang-orang yang tersisa itu tidak melaksanakan "amar makruf dan nahi munkar yaitu sosial support dan sosial kontrol terhadap masyarakatnya. Mengapa mereka turut hanyut dalam keingkaran dan kemaksiatan, pola hidup mewah, sehingga Allah Swt menetapkan kepantasan bagi mereka memperoleh azab dan aneka siksa akibat perbuatan mereka, disebabkan karena keingkaran mereka serta munculnya aneka kemaksiatan, yang bersumber dari kecintaan kepada kemewahan dunia dengan segala macam kelezatannya. Kemudian Allah Swt mengecualikan : "illâ qalîlan" = "kecuali sedikit"; artinya, mereka dibinasakan semua kecuali sedikit yang diselamatkan Allah, yaitu orang-orang yang beriman dan taat dalam ibadah, dan mengikuti tuntunan agamanya serta memancarkan rahmat dan kasih sayang, karena yakin bahwa inti ajaran agama ialah silaturrahim tanpa memandang perbedaan agama. Mereka melaksanakan pola hidup konsumerisme, melalui kelezatan dan kenikmatan aneka harta benda berupa kemewahan yang diberikan Allah kepada mereka sehingga mereka tidak memperdulikan lagi halal dan haram, serta mereka mengikuti aneka syahwat, dengan rakus mereka menggali barang-barang tambang tanpa memperhatikan keselamatan kerja dan nasib generasi masa depan, mereka menebang hutan-hutan untuk memenuhi nafsu rakus mereka kepada kemewahan dunia tanpa memperhatikan lagi lingkungan. Mereka menangkap ikan-ikan dengan bom dan racun tanpa melihat keselamatan lingkungan. Setiap jengkal tanah yang kosong dikota dihabiskan untuk pusat-pusat bisnis, tanpa memperhatikan masalah pendidikan bangsanya, lapang bermain anak-anaknya, kesehatan lingkungannya serta keselamatannya dari kehancuran sosial dan bangsanya. Dengan statusnya, dia menetapkan standar pelayanan yang luar biasa dalam segala kelezatan dan kenikmatan tanpa batas-batas agama dan moral, dan hidupnya memperoleh pelayanan, tanpa pernah melayani orang lain. Dengan pengaruh harta yang berlimpah ruah, pelayanan yang diperolehnya sudah menyimpang dari garis-garis agama dan moral sehingga dia bergelimang dalam kemungkaran dan maksiat. Hotel-hotel mewah dengan pelayanan all in menjamur dimana-mana. Seterusnya Allah Swt meneruskan ayatnya yang artinya : "Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat saleh/kebaikan. " Berita ini sangat penting untuk dicamkan oleh kaum beragama masa kini, karena pernyataan Allah ini pasti benarnya. Allah Swt memberitakan, bahwa DIA tidak akan menghancurkan suatu kota atau kampung atau negara sekalipun, termasuk kota-kota dahulu yang telah hancur kalau penduduk negara itu berbuat kebaikan atau kesalehan sosial yang universal. Hanya saja Allah menghancurkan apabila bangsa itu secara keseluruhan sudah kompak bergotong-royong berbuat kerusakan, jika setiap ivent ujungnya kerusuhan dan kebrutalan. Kesalehan sosial akan menimbulkan jiwa "rahmatan lil alamin" yaitu seluruh hidupnya memancarkan rahmat bagi alam sekelilingnya. Kesalehan sosial akan menjadikan setiap individu berjiwa "shilah al-rahim" inti ajaran Islam "ma'rifatullah" . Dan jika kebrutalan sudah meraja-lela, dan setiap event sudah muncul kebrutalan maka tunggu saja azab Allah yang akan datang dengan tiba-tiba………….. Tindakan-tindakan aniaya itu ada tiga pendapat: 1. Kebinasaan yang kecil, karena yang berlaku aniaya ada disana, dan mereka tertutup oleh kebanyakan orang. Ada diantara pejabat yang tanpa moral dan akhlak berpola hidup mewah dan tidak memperhatikan lagi halal haram sesuai tuntunan agamanya, serta tidak peka lagi terhadap kemiskinan bangsanya. Bahkan ada yang berjoget dan menari-nari diatas bencana yang menimpa bangsanya. 2. Kebinasaan yang banyak dari yang sedikit diantara mereka, kebanyakan berbuat maksiat karena yang sedikit tidak dapat mempengaruhi yang banyak, bahkan yang sedikit itupun ada yang turut-turut hanyut dengan banjir kemewahan hidup. 3. Aniaya bersama-sama sesuai dengan firman Allah surah Yunus [10]: 44 : "Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri." Kalau mafia kejahatan itu sudah merajalela yang dalam istilah moderen preman-preman sudah menguasai seluruh lembaga kehidupan dan pintu-pintu kehidupan sudah dikuasai oleh Dajjal Markus, sedang ummat beragama sudah tidak punya asset lagi kearah itu maka ulama dan intelektual dan cendekiawan harus bangkit mendobraknya untuk megibarkan bendera keadilan dan rahmatan lil `alamin. Dunia harus diselamatkan dari kehancurannya dimana setiap individu wajib muncul ditengah masyarakatnya sebagai khalifah , yaitu petugas dan wakil Allah menciptakan kemakmuran dunia yang berkeadilan, baik dalam hukum maupun sosial. s. Saba [34]: 34-38, artinya : Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah dinegeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya. Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak dibandingkan dengan kamu dan kami sekali-kali tidak akan diazab. Katakanlah : "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki- Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki- Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan sekali-sekali bukanlah harta dan bukan pula anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun, tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa ditempat-tempat yang tinggi dalam surga. Dan orang-orang yang berusaha menentang ayat-ayat Kami dengan anggapan untuk dapat melemahkan dan menggagalkan azab Kami, mereka itu dimasukkan kedalam azab. *Imâm al-Qurthûbi dalam tafsirnya 14/305, menyatakan : pola hidup mewah, mengutip pendapat Imam Qatâdah : "Orang-orang kaya penduduk itu dan pemimpin-pemimpinny a, pembesar-pembesarny a dan penghulu-penghuluny a yang jahat terhadap agama". Mereka ingkar terhadap agama dan ajaran-ajarannya disebabkan karena merasa kaya, dan sebagai pejabat memiliki harta yang banyak serta anak-anak dan pengikut yang banyak. Sambil mereka yakin dan berkata : "wamâ nahnu bi mu'adzzibîn" = "dan kami tidak akan memperoleh azab". Mereka merasa lebih utama dan lebih baik dengan banyaknya harta dan kekayaan mereka disamping anak dan pengikut yang banyak, karena pandangan mereka yang materialis. Mereka merasa dapat berbuat sekehendaknya dengan kekayaannya yang melimpah itu. Dengan hartanya dia dapat mengatur polisi dan jaksa serta hakim-hakim. Allah Swt. menolak pandangan mereka dengan mempertegas bahwa kekayaan itu hakikatnya adalah milik Allah, dan Allahlah yang melapangkan atau menyempitkan rezeki seseorang dengan firman-Nya. "Katakanlah, sesungguhnya Tuhanku yang melapangkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki- Nya atau menyempitkan- Nya." Sedang kelapangan dan kesempitan rezeki itu bukan penentu kebahagiaan, baik didunia apalagi diakhirat nanti. Kelapangan rezeki didunia bukan tanda akan mencapai kebahagiaan didunia dan diakhirat dan janganlah hendaknya manusia menyangka bahwa harta dan anak itu yang akan menyelamatkannya diakhirat nanti. Walâkin aktsara al-nâs lâ ya'lamûn : "Tetapi banyak sekali manusia yang tidak mengetahuinya" Kemudian Allah Swt menguatkan pandangan tersebut dengan firman-Nya yang artinya: "Dan tidaklah harta-harta kamu yang akan mendekatkan kalian kepada Kami, dan tidak pula anak-anak kalian yang akan mendekatkan kalian kepada Kami sedekat-dekatnya. " Ini terjemahan Imâm Mujâhid, karena "zulfâ" oleh beliau diterjemahkan "qurbâ ". "Kecuali orang yang beriman dan beramal-saleh" . Said bin Jubair berkata : "arti kecuali orang yang beriman dan beramal-saleh" ialah : "bahwa tidak akan membahayakan harta dan anak-anaknya didunia ini karena kesalehan mereka" Imam al-Laits meriwayatkan dari Imam Thâwus bahwa beliau berkata atau berdoa : "Allahumma rzuqnîl îmân wal `amalu wa jannibniy al-mâlu wal waladu": "Ya Allah, berilah aku rezeki iman dan amal, serta jauhkanlan aku dari pengaruh jelek dari harta dan anak." Maksudnya, harta dan anak yang akan mendurhakakan kepada Allah, atau harta dan anak yang tidak mendorong kepada kebaikan dan kesalehan, karena Nabi pernah mengungkapkan: "Al-mâlus shâlihu wal waladus shâlihu lir rajulis shâlihi fa ni'ma hâdzâ" Harta yang saleh dan anak yang saleh untuk orang yang saleh. Alangkah nikmatnya ini. Jadi, iman dan amal-salehnya itu yang akan mendekatkannya kepada Allah Swt. "Fa ulâika lahum jazâul dha'fi bimâ `amilû" : Maka mereka akan memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan amal-salehnya itu. Hal ini dipertegas Allah Swt pada surah Âli `Imrân [3] : 160 yang artinya : Barang siapa yang membawa amal-yang baik maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya dan barang siapa membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya. Menyaksikan fenomena alam yang terjadi akhir-akhir ini, baik dalam negri maupun luar negri, dengan banyaknya musibah yang menimpa dunia baik berupa tsunami yang begitu hebat yang telah menelan korban kurang lebih 300.000, nyawa di Aceh, gempa bumi yang memporak-porandakan Daerah Istimewa Yogyakarta yang menelan korban jiwa ratusan orang, gelombang pasang yang meluluh lantakkan pantai Pangandaran dan menelan puluhan jiwa, gempa yang memporak-porandakan Padang, sampai Bengkulu yang menelan korban ratusan jiwa, semburan lumpur panas Lapindo yang berkepanjangan dan telah menelan banyak korban jiwa, harta benda, serta banjir yang menggenangi Jakarta dan sekitarnya demikian juga Bekasi, banjir di Jawa Tengah, banjir di beberapa daerah Jawa Timur teristimewa Pasuruan. Aneka badai yang telah meyapu bersih beberapa kota-kota didunia, topan badai Tornado yang menghancurkan Amerika Serikat, badai Katrina yang menghancurkan California, badai yang menyapu bersih beberapa daerah di Jepang, badai Australia, badai salju yang melumpuhkan Cina, badai salju yang menelan korban di India dan Pakistan,. Kebakaran hutan yang menghancurkan beberapa daerah di California Amerika Serikat, kebakaran hutan yang menimpa banyak negara di Eropa, kebakaran hutan di Australia yang bersumber dari petir serta kebakaran diseluruh Indonesia, baik rumah, pabrik, kompleks, kampung yang tidak henti-hentinya, termasuk hutan-hutan, adalah azab Allah, minimal peringatan. Kecelakaan transportasi darat, laut dan udara diseluruh dunia yang telah menelan ribuan nyawa. Kerusuhan dan kebrutalan yang muncul silih berganti pada setiap event, baik itu pada pertandingan sepak bola, pertandingan volley ball, konser musik, pilkada, kerusuhan antar desa, antar kampung, antar suku, antar mazhab, antar agama, dan seterusnya. Semuanya itu adalah azab yang diturunkan oleh Allah Swt, karena manusia sudah bergelimang dalam dosa dan maksiat serta aneka kemungkaran dan perbuatan-perbuatan tercela. Aneka azab yang diturunkan Allah akhir-akhir ini, yang oleh para ilmuwan dianggap sebagai gejala alam semata-mata, tetapi jika kita melihat sejarah kebelakang, musibah yang diturunkan Allah kepada hamba-hamba- Nya erat hubungannya dengan moral dan akhlak manusia sebagaimana Allah telah menurunkan aneka azab pada ummat-ummat dahulu, akibat pola hidup dan sikap moral dan akhlak mereka.Kebakaran yang kami amati selama tiga bulan terakhir ini diseluruh dunia terutama di Indonsia, bukan lagi kebakaran biasa, tatapi satu peringatan yang terang terhadap ulama ,intelektual dan cendekiawan agar kembli kepada Allah Swt dan menerapkan ajaran-Nya.
(Dikutip dari milist rumah ilmu Indonesia) |
|
Last Updated on Thursday, 17 December 2009 20:35 |
|